Selagi Mimpi Itu Gratis



Dulu saya sering berbicara kepada kawan saya, mimpi itu kan gratis jadi tidak masalah. Salah selalu berpikir dalam konteks selama apa yang saya bicarakan cuman angan-angan belaka jadi tidak ada masalah ketika mengatakan hal yang mustahil. Kalau bisa orang katakan cet langet alias melukis langit. Hampir sesuatu yang tidak mungkin, tapi saya kembali mengatakan kepada teman saya selama itu gratis kan tidak apa-apa



Beberapa hari ini saya mendapat sebuah pencerahan setelah banyak membaca buku-buku motivasi tentang mimpi yang disampaikan oleh Budi Waluyo, bahwa ketika kamu bermimpi kamu juga harus siap untuk membayarnya. Bukan membayar dengan uang tapi membayarnya dengan dengan usaha, kerja keras, semangat, ketekunan dan kedisiplinan untuk mendapatkannya.

Tapi secara pribadi dalam hidup saya membedakan mana yang dinamakan mimpi dan impian. Menurut saya mimpi itu adalah ketika seseorang mengucapkan sesuatu hal tapi sama sekali tidak ingin diwujudkan olehnya. Untuk impian sendiri menurut saya adalah sesuatu yang memang diinginkan dan orang yang berimpian itu tudak pernah lelah untuk mewujudkannya.


“tapi kadang kala mimpi dan impian itu berbaur menjadi sesuatu yang abstrak dan susah untuk diwujudkan”

Dahulu sekali, tapi bukan di zaman dahulu kala :D. saya pada waktu masih kuliah memiliki sebuah impian untuk bisa langsung melanjutkan S2 setelah S1. Tapi taukan semuanya, itu hanya mimpi saya saja, saya sama sekali tidak tau dan tidak paham bagaimana untuk mewujudkannya. Wah… saya benar-benar menyedihkan.. pada saat itu saya seseorang yang miskin cara, miskin informasi, miskin motivasi tapi sama sekali tidak miskin semangat.. hehehehe..

Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu, karena sampai sekarang, tepatnya setelah lebih setahun saya lulus kuliah, mimpi untuk melanjutkan S2 masih tertanam dalam benah hati saya yang paling dalam. Cuman sekarang saya sudah sedikit paham dan mengerti apa yang saya harus lakukan

“semangat dan motivasi seperti air dan makanan dalam pengembaraan mimpi kita, menjaga semua perbekalan sampai kepada tujuan mimpi kita sesuatu hal yang memang mutlak untuk dilakukan”

Ketika semua perbekalan habis, bisa kamu bayangkan apa yang akan terjadi :D

Yang ingin saya ceritakan disini adalah ketika kita berani memiliki impian maka kita juga harus berani untuk mewujudkannya. Seperti yang sudah saya ceritakan diatas, saya memiliki impian untuk langsung melanjutkan S2 setelah selesai S1. Setelah tamat saya menyadari satu hal, bahwa untuk melamar beasiswa saya membutuhkan nilai toefl ITP, betapa bodohnya saya mengira bahwa ada beasiswa yang tidak memerlukan toefl.

Untuk mendapatkan sertifikat toefl pun juga tidak mudah, saya harus tes dulu, dan dengan otak saya yang pas-pasan bisa dipastikan nilai saya tidak akan mencapai 450-500 keatas. Akhirnya saya memutuskan untuk les toefl terlebih dahulu, permasalahan baru datang, dari mana saya bisa dapatkan uang untuk les.. saya putar otak, tidak mungkin saya meminta kepada orang tua, sudah kuliah menyusahkan, masak untuk les juga harus menyusahkan.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk kerja terlebih dahulu dan menabung untuk les toefl. Tapi mencari pekerjaan juga tidak semudah yang saya pikirkan. Akhirnya saya membantu teman-teman saya untuk menyelesaikan skripsi, karena duduk dirumah saja juga terasa membosankan. Saya percaya ketika saya membantu orang lain, nanti Allah yang akan membantu saya. Alhamdulillah akhirnya selama 3 bulan kesana kemari saya mendapatkan pekerjaan sebagai mitra kerja BPS sebagai tenaga input data. Walaupun tidak terikat, setidaknya dengan pekerjaan ini saya bisa menabung untuk les toefl. Saya bekerja selama kurang lebih dua bulan. Gaji yang diberikan pun pas-pasan untuk les toefl.

Tiba-tiba godaan kembali datang kepada saya, “memang hidup ini terlalu banyak godaan… huft”

Setelah selesai menjadi mitra kerja BPS, ada sebuah lowongan untuk menjadi admin di perusahaan distributor cat, saya memutuskan melamar disana dan akhirnya lulus. Saya sempat berpikir bagaimana dengan tujuan awal saya untuk melanjutkan S2.. tapi kemudian hati saya membisikkan seperti ini “pekerjaan itu susah untuk dicari, orang lain kadang belum bisa mendapatkan kerja, ini kamu yang sudah dapat kerja kenapa harus ditolak” .

Dan diakhir cerita saya mengikuti godaan saya tersebut, saya bekerja sebagai staff admin disana. Tapi tetap saja saya dengan tujuan awal saya menabung uang untuk les toefl. Berarti saya tidak terlalu berbelok dari tujuan awal saya… hehehehehe.

Tapi pada kenyataannya saya juga tidak lama bekerja disana, kurang lebih 4 bulan. Selain karena tujuan awal saya tadi yang bukan untuk bekerja selamanya, saya merasa saya tidak betah untuk bekerja ditempat yang sangat jauh berbeda dari background pendidikan saya. Singkat cerita akhirnya saya resign dan memutuskan untuk daftar les toefl selama full satu bulan sekaligus daftar untuk ikut tes toefl ITP.

Sebulan kemudian…
Saya sudah les toefl dan juga sudah tes toefl ITP, dengan modal otak yang pas-pasan dan berlajar selama sebulan, Alhamdulillah saya mendapat skor toefl 487. Walaupun tidak sampai 500 tapi setidaknya itu sudah menjadi modal saya untuk mengukur otak saya yang pas-pasan dan melamar beasiswa afirmasi LPDP.

Tapi kemudian godaan kembali datang. Kenapa hidup saya banyak sekali godaannya.. huhuhuhu…

Dibulan november 2015, ada pembukaan kerja sebagai penyuluh perikanan bantu pada kementrian kelautan dan perikanan, niat saya untuk focus S2 pun kembali goyah, akhirnya saya mengikuti proses seleksi menjadi penyuluh perikanan bantu.

Dan…….

Hal yang sangat saya tidak duga pun terjadi, saya lulus bekerja sebagai penyuluh kontrak di kementrian. Hahahahaha.. kadang saya jug heran sendiri kenapa saya bisa lulus, padahal bisa dikatakan sangat susah untuk lulus kerja di kementrian. Tapi mungkin inilah rezeki saya. Akhirnya saya putuskan untuk kembali menunda rencana study saya dan bekerja. Saya simpan dulu keinginan saya, mngkn nanti diakhir tahun keinginan itu akan terwujud.

Singat cerita sampai tulisan ini saya posting, saya sudah bekerja selama 9 bulan 11 hari di kementrian kelautan dan perikanan.


Tapi saya benar-benar sudah menyadari, mimpi saya itu bukan sesuatu yang memang bisa dibeli dan digantikn dengan apapun. Saya masih dalam proses untuk melengkapi berkas beasiswa LPDP. Saya ingin mewujudkan mimpi saya karena sudah sampai waktunya untuk berhenti bermain-main dengan mimpi.

Bermimpilah kamu agar memiliki tujuan. Wujudkan mimpi itu agar kamu selalu punya harapan untuk terus memaknai kehidupan. Allah selalu tahu mimpi-mimpimu dan selalu mendengar doamu


Selagi Mimpi Itu Gratis Selagi Mimpi Itu Gratis Reviewed by Indah Permatasari on Oktober 11, 2016 Rating: 5

1 komentar:

  1. Memang impian itu bak jalan berliku yang butuh pengorbanan dan pilihan sulit. Karena tak ada yang tau masa depan seseorang. Saya terbesit sebuah kata bijak dari sang putra fajar yakni soekarno: bermimpi setinggi langit, saat kau terjatuh kamu akan terjatuh di tumpukan bintang-bintang.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.